ILMU USHUL FIQIH DI MATA FILSAFAT ILMU

Buku ini ingin memaparkan dimensi epitesmologi (metodologi keilmuan) sebagai salah satu pilar keilmuan untuk meneropong atau dengan istilah cantiknya mendiskusikan jatidiri ILMU USHUL FIQIH. Filsafat ilmu telah mematok harga, bahwan suatu ilmu dikatakanOntologi membahas tentang apa yang ingin kita ketahui. Apa yang ingin diketahui oleh ilmu? atau dengan perkataan lain, apakah yang menjadi bidang telah ilmu atau disebut ilmu jika memiliki tiga kerangka dasar ilmu, (ontologi, epistemologi, dan aksiologi) .
Ontologis meneropong:
  • Obyek apa yang ditelaah ilmu Ushul Fiqh ?
  • Bagaimana wujud yang hakiki dari obyek ilmu Ushul Fiqh?
  • Bagaimana hubungan antara obyek tadi dengan daya tangkap manusia [seperti berpikir, merasa dan mengindera] yang membuahkan pengetahuan.

Buku ini memberikan jawaban secara ontologis Ilmu Ushul Fiqh memiliki obyek telaah bagaimana manusia menangkap hukum Allah, dan bagaimana segenap persoalan serta cara-cara memahami maksud Tuhan. Pada dasarnya ilmu harus digunakan untuk kemaslahatan umat manusia. Ilmu dapat dimanfaatkan sebagai sarana untuk meningkatkan taraf hidup manusia dengan menitik beratkan pada kodrat dan martabat. Aksiologi adalah wilayah yang membicarakan kegunaan ilmu, dan nilai-nilai.

Selanjutnya telaah diarahkan kepada teropongan aksiologi (kegunaan ilmu). Sedikitnya ada tiga pertanyaan terkait dengan aksiologi:

  • Untuk apa pengetahuan yang berupa ilmu Ushul Fiqh itu dipergunakan ?
  • Bagaimana kaitan antara cara penggunaan tersebut dengan kaidah moral ?
  • Bagaimana penentuan obyek yang ditelaah berdasarkan pilihan-pilihan moral?Bagaimana kaitan antara teknik prosedural yang merupakan operasionalisasi metode ilmiah dengan norma-norma moral/profesional?

Buku ini memberikan jawaban bahwa secara aksiologi ilmu ushul fiqh mengantarkan manusia agar memahami maksud Tuhan, sehingga mendapatkan kebahagiaan di dumia dam kahirat.

Kemudian bagaimana pembahasan terkait dengan Epistemologi?

Landasan epistemology tercermin secara operasional dalam metode ilmiah . Pada dasarnya metode ilmiah merupakan cara ilmu memperoleh dan menyusun tubuh pengetahuan berdasarkan :

  • Kerangka pemikiran yang bersifat logis dengan argumentasi yang konsisten dengan pengetahuan sebelumnya yang telah berhasil disusun;
  • Menjabarkan hipotesis yang merupakan deduksi dari kerangka tersebut dan
    Melakukan verifikasi terhadap hipotesis termaksud dengan menguji kebenaran pernyataan secara factual.

Buku ini telah memberikan jawabnya.(sila membaca lajut dalam buku aslinya)

Catatan: [Buku semacam ini telah lahir banyak sekali, ketika dan transformasi berani dari berubahnya IAIN menjadi UIN. Tradisi keilmuan terbuka lebar dan beberapa informasi bergulat tan filter lagi. Sekarang metode Hermeneutika mendapat tepat. Tentunya hal ini penuh perdebatan seru antara setuju dan menunggu]

JUDUL: Ilmu Ushul Fiqh
PENULIS: Dr. Muhyar Fanani
PENERBIT: Walisongo Press. Jl. Walisongo No. 3-5 Semarang 50185 Telp: (024) 7615923; 081325639165
ISBN: 978-979-1596-68-8
TEBAL: xii + 180 halaman;14 x 20 cm
CETAKAN: Nopember 2009. Cetakan I
[]

Logika (7), Kata dan Istilah, Kalimat dan Pernyataan

Selamat jumpa lagi semuanya ...!

Kali ini saya masih membahas soal logika. Namun, tidak akan memperkenalkan jenis logika lainnya. Saya hanya ingin menjelaskan kembali beberapa hal pokok, yang berkaitan dengan materi utama pembahasan logika. (Waduh, formal banget nih bahasanya! ^_^ )

Materi pembahasan logika yang terutama, seperti saya pernah bahas dalam uraian yang berjudul Pengantar dan Materi Pembahasan, terdiri dari tiga hal: (1) sejarah dan aliran, (2) istilah, dan (3) pernyataan. Dua materi (materi ke-1 dan ke-2), sudah saya singgung sedikit dalam pembahasan lainnya yang terdahulu. Namun, saya memang belum akan menyinggung pembahasan aliran dalam logika karena yang ini agak teknis bin ribet. (nah lho, apa nih maksudnya? :-? )

Sengaja, dalam posting kali ini, saya akan membahas materi ke-2 dan ke-3 saja. Uraian mengenai materi ke-2, akan kita coba bahas apa bedanya "kata" (word) dan "istilah" (term). Sedangkan dalam membahas materi ke-3, kita akan bahas apa bedanya "kalimat" (sentence) dan "pernyataan" (proposition). Langsung kita mulai aja yuk? :-)

Kata dalam bahasa Indonesia memang bisa dipahami sebagai sesuatu yang menjadi unsur pembentuk bahasa. Misalnya, ada kata: "miskin". Kata ini akan berarti, hanya jika kata ini digabungkan dengan kata lain atau dengan tanda bahasa yang mendukung.

Misalnya, "Oohh ... , miskin ya?" atau, "Miskin ...?"

Pada kalimat pertama, kata miskin bisa berarti dua hal. Hal ini menunjukkan ungkapan ketidaktahuan seseorang tentang keadaan sebelumnya yang bersangkutan dengan pengertian "miskin" itu sendiri. Kedua, ungkapan yang bernada merendahkan dapat menjadi ungkapan seseorang yang berhadapan dengan keadaan seseorang yang memang "miskin".

Untuk kalimat kedua, kita akan mengerti kalau kata "miskin" di situ akan berarti pertanyaan. Juga bisa berarti ungkapan ketidakpercayaan.

Demikianlah, cara kita memahami "miskin" sebagai sebuah kata.

Walaupun begitu, "miskin" juga bisa berarti istilah. Artinya, "miskin" diberikan pengertian yang bersifat khusus dan akan dipahami secara berbeda dalam bidang tertentu. (Bandingkan uraian ini dengan apa yang sudah diperjelas oleh Pusat Bahasa)

Misalnya, dalam agama Islam, ada ungkapan:
"Kemiskinan itu akan mendekatkan seseorang pada penolakan beragama".
Pun dalam agama Kristiani, khususnya kaum Protestan, memiliki keyakinan:
"Kemiskinan itu harus ditolak, karena kalau kita kaya di dunia ini, maka kita akan kaya pula di Surga".
Tapi tidak begitu dalam agama Budhis. Ini tersirat dalam keyakinan:
"Dengan menjadi pengemis, maka seseorang akan mengerti makna kehidupan yang sebenarnya".
(untuk uraian dalam agama ini, mohon maaf kalau misalnya ada kekeliruan. ralat akan dilakukan apabila ada yang keberatan. ^_^ )

Masuk pada bidang sosial, politik, ekonomi, maupun budaya, "miskin" memiliki satu pengertian yang kompleks atau amat luas. Istilah ini dapat diartikan macam-macam, sesuai dengan "maksud", "tujuan", atau "kepentingan" yang ada dalam penggunaan "miskin" itu.
Misalnya, ketika ditetapkan Millenium Development Goals oleh masyarakat dunia, khususnya oleh PBB, "kemiskinan itu harus dapat diatasi pada tahun 2015" adalah slogan yang membawa dampak politis yang luar biasa. Masing-masing negara, tentunya akan membuat kebijakan ekonomi yang mengarah pada tujuan tersebut. Begitu juga para politisi akan memakai ini sebagai bagian dari kampanye.
Selain itu, hal ini juga beraspek budaya, karena "miskin" lalu dikaitkan dengan sikap hidup manusianya. Pun berhubungan dengan sosial, karena "miskin" tidak mungkin berada di luar konteks bermasyarakat.

Nah, dengan penjelasan yang serba sedikit, kita mungkin dapat membayangkan seperti apa bedanya kata dan istilah. Hal ini sebenarnya terletak pada bagaimana kita mengartikannya, atau bagaimana kita mendefinisikannya. Semakin teknis suatu kata didefinisikan, maka kata itu secara langsung akan menjadi istilah.

Lalu, terkait dengan apa yang disebut dengan kalimat dan pernyataan, kita dapat membedakannya secara mudah sebenarnya. Misalnya dalam contoh di bawah ini.

1. "Adik makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah."
2. "Adik itu makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah."

Contoh 1 ini merupakan kalimat lengkap, karena ada S+P+O+K ("Adik" = Subjek + "makan" = Predikat + "nasi goreng" = Objek + "sebelum berangkat sekolah" = Keterangan).
Contoh 2 ini merupakan pernyataan, serta terdiri dari S+K+P ("Adik" = Subjek + "itu" = Kopula + "makan nasi goreng sebelum berangkat sekolah" = Predikat)

Dengan memperhatikan contoh tersebut, kita dapat mengenali bahwa kalimat dan pernyataan hanya berbeda tipis saja, yaitu dibedakan dengan kata "itu". Dalam bahasa Inggris, kata "itu" yang dimaksud sebenarnya adalah kata "is", yang artinya "adalah" itu sendiri. Secara lebih jauh, ciri yang membuat pernyataan itu dibedakan dari kalimat adalah sisi pengujiannya. Kalimat (1) di atas, tidaklah perlu diuji isinya benar ataupun tidak karena sudah memenuhi syarat kalimat lengkap. Sedangkan dalam pernyataan (2), hal ini perlu dibuktikan kembali apakah isinya benar atau salah, khususnya untuk fakta yang ada pada Predikat dari pernyataannya tersebut. (lihat kembali pembahasan saya untuk masalah formal dan material dalam logika dalam artikel ini.)

Jadi, kalau kita boleh mengambil kesimpulan secara singkat, kalimat yang benar hanya membutuhkan sisi pengujian atas susunannya, sedangkan pernyataan yang benar hanya akan benar bila teruji sisi susunannya (formal) maupun sisi isi yang terkandung di dalamnya (material).

Nah, dengan kesimpulan yang terakhir tadi ini, saya bisa menutup artikel mengenai kata dan istilah, serta kalimat dan pernyataan, dengan baik dong. Kan dah ada kesimpulannya tuh ...! :-p
Sampai jumpa dalam posting mengenai logika yang selanjutnya.

FILSAFAT ILMU: ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI, DAN LOGIKA ILMU PENGETAHUAN

Sebelumnya telah diterbitkan (2007-2008) dengan judul Filsafat Ilmu dan Logika. Pada penerbitan ini, judul diubah sesuai dengan isi yang terdapat didalamnya, sehingga judul yang dipilih adalah, Filsafat Ilmu: Ontologi, Epistemologi, Aksiologi dan Logika Ilmu Pengetahuan. Judul ini menurut penulisnya dianggap tepat dan lengkap karena judul menyerminkan landasan utama dalam membahas filsafat ilmu, melalui empat pilar utamanya. Terkait denganjudul bahasan berpusar pada Bab keempat, bab kelima dan bab ketujuh.
Bab keempat, menjelaskan tentang landasan penelaahan ilmu, dan yang dibahas meliputi ontologi, epistemologi, aksiologi, yang selanjutnya dikaitkan dengan signifikansi ilmu pengetahuan kembali ke filsafat. Selanjutnya bab empat ini juga membentangkan relevansi Ontologi, Epitemologi dan Aksiologi dengan Ilmu Politik. Relevansi Ontologi, epistemologi dan aksiologi juga dikaitkan dengan Ilmu antropologi. Gudang filsafat ini tertarik untuk membahas kedua relevansi tersebut.
Bab kelima, menjelaskan tentang struktur atau bangunan ilmu pengetahuan terdiri dari: metode ilmiah; teori; hipotesis; logika, data informasi, pembuktian, evaluasi dan paradigma
Bab ketujuh membahas tentang logika ilmu dan metode berfikir dan metode ilmiah, engertian metode berfikirbilmiah logika, pengertian logika dan penlaran ilmiah, macam-macam logika, kegunaan logika, bahasa keilmuan, model dan kriteria motode berfikir ilmiah, metode berfikir rasional: asas dalam berpikir, serta hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan metode rasional.
RELEVANSI ONTOLOGI, EPISTEMOLOGI, AKSIOLOGI TERHADAP ILMU POLITIK DAN ANTROPOLOGI.
Buku ini mengangkat Relevensi pilar keilmua Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi dikaitkan dengan Ilmu Politik dan Antropologi, tentunya memiliki alasan kuat mengapa hanya dikaitkan dengan Ilmu Politik dan Antropologi?
Gudang Filsafat ini memandang bahwa buku ini sengaja dirancang untuk kebutuhan pembelajaran mahasiswa di departemen Antropologi dan Ilmu-ilmu Politik. Barangkali inilah yang mendorong diunggahnya relevansi Antropologi dan Ilmu Politik terhadap pilar keilmuan (Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi).
Selanjutnya tingkat relevansi diurai jelas sebagai berikut:
Dasar ontologi ilmu. Pada latar filsafat diperlukan dasar ontologis dari ilmu politik. Adapun...belum tuntas.
Data buku
JUDUL: Filsafat Ilmu : ontologi, Epistemologi ,Aksi0ologi dan Logika Ilmu Pengethauan
PENULIS: Drs.H. Muhammad Adib, MA
PENERBIT: Pustaka Pelajar Celeban Timur UH III/548 Yogyakarta 55167. tELP: (0274) 381542. E-mail; pustakapelajar@telkom,net
ISBN: 978-602-8479-93-6
TEBAL: xxv + 280 halaman; 21 cm
CETAKAN: Edisi ke 2 Cet Pertama Pebruari 2010
[]

FILSAFAT ILMU

Buku ini didesain sebagai wacana filsafati untuk siapa saja yang tertarik untuk mengembangkan wawasan filsafati. Tidak ada segmen khusus, namun bagi siapa saja yang sesungguhnya berminat di ranah filsafat utamanya filsafat ilmu, buku ini akan memberikan bantuan. Melalui buku maka refleksi pikir yang mendasar dan integral terkait hakikat ilmu pengetahuan akan mudah dipahami. Dengan tidak terasa akan trampil dalam menilai metode-metode pemikiran ilmiah, sekaligus juga akan memproses sikap ilmiah. Materi dalam buku ini disusun berdasarkan pendekatan/sistematika filsafat ilmu :Ontologi, Epistemologi, dan aksiologi. Adapun cakupan meteri yang dibentangkan buku ini antara lain:
  • Sejarah perkembangan ilmu
  • Filsafat, ilmu dan filsafat lmu
  • Dasar-dasar pengetahuan
  • Dimensi Keilmuan
  • Sarana berfikir ilmiah
  • Ilmu dan teknologi
  • Ilmu dalam strategi insani
[]. CATATAN RINGAN YANG MEMBANTU.
(Manfaat mempelajari filsafat)
  • Filsafat menolong mendidik, membangun diri kita sendiri: dengan berpikir lebih mendalam, kita mengalamai dan menyadari kerohkanian kita. Rahasia hidup yang kita selidiki justru memaksa kita berpikir, untuk hidup dengan sesadar-sadarnya, dan memberikan isi kepada hidup kiota sendiri.
  • Filsafat memberikan kebiasaan dan kepandaian untuk melihat dan memecahkan persoalan-persoalan dalam hidup sehari-hari. Orang yang hidup secara dangkal saja, tidak mudah melihat persoalan-persoaln, apalagi melihat pemecahannya. Dalam filsafat kita dilatih melihat lalu apa yang menjadi persoalan, dan ini merupakan syarat mutlak untuk memecahkannya
  • Filsafat memberikan pandangan yang luas, membendung akuisme dan akusentrisme (dalam segala hal hanya melihat dan mementingkan kepentingan dan kesenangan si aku)
  • Filsafat merupakan latihan untuk berpikir sendiri, hingga kita tak hanya ikut-ikutan, membuntut pada pandangan umum, percaya akan setiap semboyan dalam surat-surat kabar, mempunyai pendapat sendiri, berdiri sendiri, dengan cita-cita mencari kebenaran.
  • Filsafat memberikan dasatr-dasar, baik untuyk hidup kita sendiri (terutama dalam etrika) maupun untuk ilmu-ilmu pengetahuan lainnya, seperti sosiologi, ilmu jiwa,ilmu mendidik, dll
(Manfaat mempelajari filsafat ilmu)
Filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah sehingga orang menjadi kritis terhadap kegiatan ilmiah. Maknanya seorang ilmuwan harus memilki sikap kritis terhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap solipistik, yakni menganggap hanya pendapatnya yang paling benar
Filsafat ilmu merupakan usaha merefleksi, menguji, mengritik asumsi dan metode keilmuan. Sebab kecenderungan yang terjadi di kalangan para ilmuwan menerapkan suatu metode ilmiah tanpa memperhatikan struktur ilmuu pengetahuan itu sendiri. Satu sikap yang sesuai diperlukan di sini adalah menerapkan metode ilmiah yang sesuai yang sesuai dengan struktur ilmu pengetahuan, bukan sebaliknya.
Data buku
JUDUL
(Belum tuntas)

Logika (6), Model Dialektika Hegelian

Mohon maaf kepada para pembaca blog Belajar Filsafat ini. Saya belum sempat membuat posting yang baru karena kesibukan di kampus. Namun, kali ini saya memaksakan diri untuk menulis kembali buat blog ini. Selamat membaca! ^_^

Bahasan kita kali ini adalah satu model dialektika yang diperkenalkan oleh Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770 - 1831). Beliau ini adalah salah satu filsuf Jerman yang paling masyhur dan menjadi banyak rujukan dari pemikiran Idealisme pada masa sekarang ini. Idealisme yang dimaksud adalah salah satu jenis pemikiran yang mengutamakan ide atau gagasan sebagai sumber kebenaran. Biasanya, Idealisme dilawankan dengan Empirisisme atau jenis pemikiran yang mengutamakan pengalaman atas kenyataan sebagai sumber kebenarannya.

Nah, kembali pada model dialektika Hegel, model dialektikanya merupakan salah satu yang tersulit dipahami dalam sejarah filsafat modern. Ini dikarenakan Hegel berbicara dalam tingkatan yang sangat teoretis dan tidak membicarakan hal-hal yang bersifat praktis. Apalagi, filsafat Hegel memiliki dasar pemikiran pada sesuatu yang sangat abstrak, yaitu filsafat "roh". Walaupun demikian, kita tidak perlu panjang lebar membicarakan dasar filsafatnya ini. Sebab, ini belum waktunya kita masuk dalam pembahasan filsafat yang rumit tersebut. (Iya, ni kan belajar filsafatnya harus yang gampang-gampang dulu. ;-) )

Model dialektika Hegel ini adalah yang lazim dikenal sebagai:

tesis - antitesis - sintesis

Tesis secara sederhana dipahami sebagai "suatu pernyataan atau pendapat yang diungkapkan untuk sesuatu keadaan tertentu".
Misalnya: "Tanah ini basah karena hujan".
Antitesis adalah "pernyataan lain yang menyanggah pernyataan atau pendapat tersebut".
Misalnya: "Hari ini tidak hujan".
Sintesis adalah "rangkuman yang menggabungkan dua pernyataan berlawanan tersebut sehingga muncul rumusan pernyataan atau pendapat yang baru".
Misalnya: "Oleh karena hari ini tidak hujan, tanah ini tidak basah karena hujan."

Model dialektika di atas ini mungkin penyederhanaan atas apa yang dibicarakan Hegel. Tapi, kira-kira seperti inilah pola dialektika secara umum. (Mudah-mudahan apa yang saya bicarakan dengan contoh di atas tidak terlalu jauh dari apa yang memang dimaksudkan sebagai model dialektika Hegel. Kalau salah, tolong dibenerin ya? :-) )

Model dialektika ini sebenarnya sudah banyak kita praktekkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Pikiran yang satu disanggah dengan pikiran yang laennya. Namun, rumusan ilmiah atas itu memang baru dibuat secara "hebat" dan mulai terkenal dalam pemikiran filsafat semenjak diperkenalkan Hegel untuk menopang pandangan filsafatnya.

Akan tetapi, membaca pikiran Hegel itu tidak mudah. Sebab, membaca Hegel, sama dengan membaca pikiran tiga orang filsuf sebelumnya, yaitu: Immanuel Kant (1724 - 1804), Johan Gottlieb Fichte (1762 - 1814), Friedrich Wilhelm Joseph Schelling (1775 - 1854). Pada dua orang terakhir ini, Hegel mengambil saripati pikiran yang dikembangkan sebagai model dialektika. Sebagai gambaran sederhana, saya akan ringkaskan sedikit pandangan bagaimana Hegel itu sendiri "berdialektika" dengan Ficthe dan Schelling di bawah ini.

Pendapat Fichte yang terutama terletak pada pemahaman atas diri yang disebut "Aku" atau "Ego". Menurutnya, Aku ini merupakan unsur terpenting dalam diri manusia. Itu karena Aku adalah pribadi yang dapat melakukan permenungan. Ini seibarat pendapat Rene Descartes (1596 - 1650) yang mengatakan bahwa: Aku berpikir, maka Aku ada (bahasa keren latinnya, yaitu: Cogito ergo sum). Namun, dalam pikiran Fichte, Aku ini tidaklah sendiri. Aku ini menjadi sadar karena ada sesuatu yang di luar Aku. Dalam konteks ini, sesuatu yang di luar Aku dapat berupa Aku yang lain ataupun alam. Sehingga, dengan pergumulan Aku yang lain ini-lah, Aku menjadi sadar kalau dirinya terbatas. Begitupun sebaliknya dengan Aku yang lainnya itu. Bahasa sederhananya, ketika kita menyadari kehadiran orang lain, kita menjadi sadar kalau kita tidak sendiri. Dengan menyadari ketidaksendirian itu, kita pun menjadi sadar kalau kita dibatasi ataupun membatasi orang lain. Kita maupun orang lain menjadi tidak bebas.

Dalam model dialektika, pola pikir Fichte terumus demikian: Aku ini sadar (tesis) - Ada Aku lain (antitesis) - Aku dan Aku lain saling membatasi (sintesis).

Sedangkan pikiran Schelling, hal ini terungkap dalam kaitannya dengan permasalahan identitas. Schelling menolak Fichte yang mengutamakan Aku atas alam. Menurutnya, identitas Aku itu tidaklah bersifat subjektif (berciri "roh") ataupun objektif (berciri "materi"). Aku mengatasi keduanya. Oleh karena itu, Aku berciri mutlak atau absolut. Maksudnya, secara sederhana, andaikan saja Aku ini bukan pribadi. Maka, Aku akan mendapatkan ciri yang sangat abstrak. Sebab, ketika tadi dipahami bahwa alam adalah Aku yang lain, alam yang bukan pribadi mendapatkan status yang sama dengan manusia yang pribadi. Jadi, tidak ada bedanya antara manusia dan alam karena keduanya dapat dipandang sebagai Aku. (Hik... hik... bingung. Ada penjelasan lain yang lebih sederhana ga? Tolong ...!!! :-( )

Dalam model dialektika, pola pikir Schelling terumus demikian: Aku yang lain atau alam (tesis) - Aku individu atau manusia (antitesis) - Aku yang bukan materi dan roh (sintesis).

Berusaha mengatasi perdebatan antara Fichte dan Schelling, Hegel lalu merumuskan sesuatu yang "sederhana" dibandingkan dua pendapat filsuf itu. Pada satu sisi, ia mengkritik pandangan Fichte yang tidak menyelesaikan masalah pertentangan antara Aku dengan Aku yang lain. Sementara pada sisi yang lain, walaupun kagum dengan filsafatnya Schelling, Hegel mengatakan bahwa pendapat Schelling memiliki kelemahan karena tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan Aku absolut itu sendiri. Hegel lalu merumuskan pemahamannya atas masalah ini menjadi:

Idea (tesis) - Alam (antitesis) - Roh (sintesis)

Inilah apa yang dimaksudkan sebagai Aku absolut menurut pandangan Hegel. Bingung kan? Silahkan baca selengkapnya dalam tulisan Hegel maupun tulisan tentang Hegel. Hehe... (Bandingkan pula dengan apa yang dijelaskan di awal tentang model dialektika oleh saya. ;-) )

Ini karena saya harus memegang janji saya untuk tidak panjang lebar menjelaskan pandangan filsafat Hegel mengenai roh. Tetapi, apa yang saya sampaikan sudah menjelaskan bahwa model logika yang dikembangkan Hegel memang paling rumit dalam sejarah filsafat. Sampai jumpa dalam postingan berikutnya. ^_^

Referensi:
F. Budi Hardiman, 2007, Filsafat Modern: Dari Machiavelli sampai Nietzsche, cet. II, PT Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

DIALOG EPISTEMOLOGI

Buku mendialogkan dua pemikir Mohammad Iqbal dan Charles S. Peice. Epistemologi adalah materi yang didialogkan. Ketajaman kedua pemikir itu memilki citarasa yang berbeda ketika melihat epistemologi dari berbagai dimensi. Dalam buku ini kedia pemikir mengritisi para filsuf terdahulu dalam memandang ilmu, sekaligus juga mempertontonkan kelemahan-kelemahan para pemikir pendahulunya. Dengan lantangnya mulai Plato, Rene Decartes hingga Imanuel Kant dikritisi.
SIAPA MOHAMMAD IQBAL DAN CHARLES S.PIERCE ?
Mohammad Iqbal (1876-1983)
Lahir pada 24 Dzulhijah 1289 atau 22Pebruari 1873 di Sialkot Punjab dan meninggal pada 20 April 1938. Berasal dari keluarga kasta Brahma Kasymir. Iqbal adalah seorang agamawan yang salih dan filsuf cemerlang yang menghayati tradisi intelektual muslim dan pemikiran modern. Iqbal mendalami prinsip-prinsip dasar serta ide-ide modern fisika, biologi, dan hidup sosial. Disamping agamawan juga dikenal sebagai seorang eksitensialis karena pemikiran-pemikirannya. Epistemologi Iqbal termasuk dalam tipe modern karena epistemologinya lebih menekankan pada "Teori Ilmu Pengetahuan" dan "Sumber-sumner ilmu"
Charles S.Pierce (1839-1914)
Dikenal sebagai perintis dan tokoh utama aliran filsafat pragmatisme. Pierce juga termasuk salah satu pioner dalam logika matematika abad ke-19. Secra profesional, ial adalah seorang ilmuwan praktisi: ahli geodesi, astronomi, dan kimia. Epistemologi Peirce berlatar belakang prgamatis dan ahli logika, epistemologinya banuak disampaikan melalui mlogikanya, oleh karenanya epitemologi Pierce digolongkan sebgai epistemologi kontemporer
PIKIRAN IQBAL:
  • Ilmu pengetahuan merupakan kekuatan jika disertai tindakan. Kekuatan inilah yang memberi bentuk pada lingkungannya
  • Menemukan bahwa diri manusia itu sendiri terdapat seperangkat alat yang berfungsi untuk memperoleh ilmu pengetahuan, seperti pancaindera, akal dan intuisi.
  • Menekankan pada "asal-usul ilmu" dan daya tangkap manusia dalam memperoleh ilmu, seperti negindera, berpikir, dan merasa.
  • Sering menggunakan istilah akal dengan kata reason, thought, dan intelect. Intellect (akal) bagi Iqbal adalah suatu keniscayaan karena dia akan memformulasi ide-ide, memegangi maknanya, mengakses manfaatnya, membuat, menguji dan melaksanakan rencana-rencana.
  • Berusaha memadukan antara pancaindera, akal, dan intuisi
  • Alam dalam pandangan Iqbal merupakan kosmos dari kekuatan yang saling berhubungan. Hendaknya, ilmu dinilai dengan konkret. Hanya kekuatan intelektual yang menguasai, yang konkretlah yang akan memberi kemungkinan kecerdasan manusia manusia melampaui konkret.
  • Pada era modern, pengetahuan harus bersandar pada pengalaman indera, tetapi untuk mencapai wahyu, secara langsung tidak dapat dilakukan melalui panca indera dan rasio, tetapi harus melalui pengalaman yang khususyang disebut intuisi. Melalui intuisi manusia dapat menangkap dan meamahami realitas mutlak.
Telah membedakan fungsi intuisi dan indera, serta akal yang melahirkan ide, bahwa yang pertma memiliki fungsi metafisik-teologis, sedangkan dua terakhir memiliki fungsi epistemologis
Sumbangan Pikiran Pierce:
Kebenaran trnsendental (Trancendental Truth), kebenaran yang berada secara inherent dalam setiaqp setiap sesuatu "sebagai sesuatu itu sendiri"(Think As Think). Kebenaran merupakan karakter real (real character) yang dimiliki oleh ssesuatu obyek, baik diketahui maupun tidak.
  • Kebenaran komplek (Complex truth) yang berupa kebenaran-kebenaran proporsional. Jenis ni dapat dibagi menjadi jenis-jenis yang lebih rinci, seperti kebenaran etik (ethical truth) atau Veracity yang berdasar pada kesesuaian sebuah proposisi denga keyakinan seorang pembicara (atau penulis). serta kebenaran logis (logical truth) yang kriterianya adalah kesesuaian sebuah proposisi terhadap realitas.
  • Ilmu pengetahuan digambarkan sebagai pencarian manusia yang memiliki karakter khusus, ketika kejujuran terus menerus menampakkan diri, seperti metabolisme dalam tubuh dan tumbuh: Science as pursuit of living men, and that its most marked characteristic is that when it is guine, it is in an incessant state of matebolishm and growth"
  • Ilmuwan harus m,enjadi orang tulus, baik terhadap diri sendiri maupun ornag lain. sementara cintanya terhadap kebenaran lambat laun menjadi satu hingga ia menjadi orang jujur dan terbuka: A Scientific man must be singgle minded and cincere with himself. Otherwise, his love of truth will melt away, at once. He can therefore, hardly be otherwise than an honest, fair-minded man.
  • Kemajuan nyata dari ilmu pengetahuan bergantung, baik pada praksis ilmiah maupun pada ide-ide spekulatif. Idealisme tidak menjadikan teorinya sebagai pokok kemajuan ilmiah, sedangkan materialisme tidak meningkatkan praksisnya dengan teori-teori yang berarti.
  • Teori yang baik harus mengarah pada penemuan-penemuan fakta-fakta baru dan konsekuensi pemikiran yang sungguh-sungguh logis dan terbuka untuk pengujian dalam rangka konsekuensi-konsekuensi yang dapat diramalkan.
  • Konstruksi logika Peirce bertumpu pada tiga macam argumen, yaitu ninduksi, deduksi, dan abduksi.
  • Kebenaran sebuah teori betapa pun baiknya harus tetap diterima secara tentative, dalam arti kebenarannya dapat diterima sepanjang belum ditemukan teori lain yang lebih powerful. Prinsip bahwa sebuah teori tidak boleh diperlakukan mutlak, a priori dan hanya bersifat tentative, dikenal dengan prinsip Fallibilism
  • Bahwa pengetahuan ilmiah bukabnlah sesuatu yang pasti sempurna dan melampui pencaian obyeknya. Ilmu pengtahuan tidak pernah mencapai formulasi yang final absolut mengenai alam semesta.
  • Fallibilism bukan rasa tidak percaya terhadap pengetahuan ilmiah, tetapi diwataki oleh keyakinan argumentasi, bahwa pengetahuan ilmiah adalah pengetahuan yang terbaik yang kita miliki, dan bahwa metode ilmiah, hanyalah metode yang dapat dipercaya untuk menetapkan.
PEIRCE filsafat dan ilmu pengetahuan:
Pertama: metode itu akan memberiarti pada ide-ide filosofis dalam rangka ekperimen
Kedua: menyusun dan memperluas ide-ide dan kesimpulan sampai mencakup fakta-fakta baru.
Data buku
JUDUL: Dialog Epistemologi Mohammad Iqbal dan Charles S. Pierce
PENULIS: Dr. Rodliyah Khuza'i M.Ag
PENERBIT: PT Refika aditama. Jl. Mengger Girang No. 98. Bandung 40254. Telp: [022-5205985. E-mail: refika@rad.net.id.
CETAKAN: Pertama; Januari 2007
ISBN: 979-1073-30-9
TEBAL: xvii + 176 halaman
Bab yang dibahas:
  • Epistemologi Modern dan Kontemporer
  • Latar Belakang Sosial Politik Intelektual di India dan Amerika Abad ke 19
  • Konstruksi Pemikiran Epistemologi M. Iqbal dan Charles S. Pierce
  • Logika Intuitif Versus Logika Ilmiah

INTEGRASI ILMU DAN AGAMA

"Hubungan ilmu dan agama, baik dalam ranah ontologis, epistemologis maupun aksiologis selalu menyisakan persolan yang tidak pernah selesai dibicarakan"
Buku ini berusaha menjawab hubungan ilmu dan agama melalui pendekatan filosofis, karena menurut pendapat [penulis buku ini, filsafatlah yang secara netral dan proporsional dapat menjembatani sekaligus mempertemukan dua domain ini. Buku ini akan menjawab dua pertanyaan pokok: 1). Bagaimana konsep hubungan ilmu dan agama ini dibicarakan secar5a akademik, dan 2). bagaimana ahkikat integrasi ilmu dan agama baik dalam ranah ontologis, epistemologis dan aksiologis.
Dalam mengekplorasi hubungan ilmu dan agama ini, penulis menggunakan pandangan-pandangan seorang pemikir Islam kelahiran Persia, Yaitu Mulla Sadra (1572-1641).
pemikiran Mulla Sadra, sebagai bagian dari fragmentasi perkembangan pemikiran Islam, secara cerdas dan jernih menempatkan kedudukan ilmu dan agama pada posisi yang sangat harmonis. Tidak salah tentunya apabila ada ungkapan bahwa kemajuan pemikiran Islam terjadi manakala agama secara mutualis menjadi bagian tak terpisahkan dari perkembangan ilmu. Agama bukan perkembangan ilmu sebagaimana terjadi di Barat tetapi justru merupakan pendorong sekaligus ruh bagi karakteristik keilmuan Islam.
ILMU DAN AGAMA SALING SAPA:
Ilmu dan Agama, tidak ada yang dapat diperbandingkan satu dengan yang lain dan keduanya tidak dapat ditempatkan pada posisi bersaing atau konflik.
Pendukung pendekatan ini menekankan bahwa permainan yang dimainkan ilmu menguji dunia natural, sedangkan permainan agama ialah mengungkapkan makna melampaui dunia nautral. Ilmu memusatkan perhatian bagaimana segala sesuatu terjadi di alam ini, sedangkan agama pada mengapa sesuatu itu terjadi dan ada (eksis). Ilmu berurusan dengan sebab-sebab, sedangkan agama makna. Ilmu berurusan dengan berbagai masalah yang dapat dipecahkan, sedangkan agama berurusan dengan misteri yang tidak mudah dipecahkan. Ilmu berusaha menjawab berbagai persoalan menyangkut cara kerja alam, sedangkan agama berurusan dengan landasan akhir alam. Ilmu memberi perhatian kepada kebenaran partikular sedang agama tertarik untuk menjelaskan kebenaran universal.
Ilmu dan agama mempunyai bahasa sendiri karena melayani fungsi yang berbeda dalam kehidupan manusia, agama berurusan dengan nilai dan makna tertinggi, sedangkan ilmu menelusuri cara benda-benda dan berurusan dengan fakta obyektif, agama rentan dengan perubahan karena sifatnya yang deduktif, sedangkan ilmu setiap saat bisa berubah karena sifatnya yang lebih induktif. Ilmu dan agama adalah dua domain independen yang dapat hidup bersama sepanjang mempertahankan "jarak aman" satu sama lain. Ilmu dan agama berada pada posisi sejajar dan tidak saling mengintervensi satu dengan yang lain.
KACAMATA PANDANG MULLA SADRA:
Dalam menyelami antara ilmu dan agama, membedakan dalam dua ranah pencermatan, pertama dilihat dari sisi wacana akademik, dan sisi lainnya dari hakikat hubungan.
[Wacana Akademik]
Dalam wacana akademik secara umum, hubungan ilmu dan agama dapat dibedakan dalam empat tipologi yaitu konflik, independen, dialog dan integrasi. Dalam tipologi konflik digambarkan bahwa oilmu dan agama sebagai dua entitas yang tidak dapat dipertemukan bahkan saling berlawanan. Kebenaran ilmu menegasikan kebenaran agama, demikian pula sebaliknya. Dalam tipologi independensi digambarkan bahwa ilmu dan agama meskipun tidak dapat dipertemukannamun keduanya tidak saling berlawanan. Tipologi ini dipandang sebagai tipologi yang cukup aman, karena masing-masing menghormati otoritas kebenaran masing-masing, sehingga tidak terjadi konflik. Namun, bagi ilmuwan yang religius, tipe ini membingungkan dan menimbulkan keputusasaan karena dalam saat yang sama ia harus menerima dua kebenaran yang berbeda/berlawanan, yaitu kebenran ilmiah yang dipahami akal dan kebenaran agama yang dipahami oleh iman.Dalam tipologi dialog digambarkan bahwa ilmu dan agama memiliki bahasa metode dan ukuran kebenaran yang masing-masing berbeda, namun tidak saling berlawanan bahkan saling mengisi dan menjelaskan satu sama lain.
REFLEKSI MULLA SADRA( KONSEP INTEGRASI ILMU DAN AGAMA)
Dalam merefleksikan integrasi ilmu dan agama, Mulla Sadra menggunakan pendekatan Otologis, Epistemologis dan Axiologis.
Konsep Ontologis:
Konsep Epistemologis
Konsep Exiologis [Belum tuntas]
Data buku
JUDUL:Integrasi Ilmu dan Agama Perspektif Filsafat Mulla Sadra
PENULIS: DR.Arqom Kuswanjono
PENERBIT: Badan Penerbit Filsafat UGM d/a Gedung Unit C, Fakultas Filsafat, Universitas Gajah Mada Yogyakarta, Jl. Olahraga Bulaksumu Yogyakart. Telp. 0274-901193. E-mail: BPFU@Filsafat.ugm.ac.id Dan Penerbit Lima d/a RT08/40 KD II Jaranan, Bangun Tapan Bantul, Yogyakarta 55981 Telpon +628121588233 E-mail: Lima_bookmaker@yahoo.co.id
ISBN: 978-979-25-3687-4
TEBAL: vii + 184.
[]
CETAKAN: I Januari 2010