Jembatan Tertinggi di Dunia

Jembatan Baluarte di Mexico memiliki tinggi 403 meter. Tingginya hanya kurang sedikit dibanding menara kembar Petronas di Malaysia (452 meter), namun kira-kira 3x tinggi Monas (137 meter). Nah, sudah bisa membayangkan kalau kita berdiri di atas jembatan Baluarte dan melihat ke bawah?

Jembatan yang belum lama diresmikan oleh Presiden Meksiko Felipe Calderon ini berdiri di atas jurang yang dalam di pegunungan di Sierra Madre, Meksiko bagian utara. Baluarte ini merupakan jembatan modern yang menghubungkan pesisir pantai Pasifik dan Atlantik.

Jalur ini merupakan bagian dari jalan raya baru yang melintasi daerah karang di Meksiko, dari Mazatlan ke Durango yang berada di pedalaman. “Proyek ini akan mempersatukan masyarakat yang berada di bagian utara Meksiko, ” kata Presiden Calderon saat pidato peresmian.

Ketinggian jembatan Baluarte ini mengalahkan rekor jembatan tertinggi sebelumnya dipegang oleh Millau Viaduct di Prancis yang memiliki ketinggian 343 meter. Dengan demikian, saat ini Baluarte tercatat sebagai jembatan tertinggi oleh Guinness World of Records

Dengan berfungsinya jembatan Baluarte ini, maka bisa mengurangi waktu perjalanan dari Mazatlan dan Durango sekitar enam jam.

Warga Meksiko berharap pembangunan jembatan ini akan meningkatkan wisatawan dan perdagangan di wilayah itu.

Kabarnya, pemerintah Meksiko juga akan membangun delapan jembatan lain dengan ketinggian diatas 300 meter, dan juga lebih dari 60 terowongan.

Well, mudah-mudahan jembatan Baluarte benar-benar kokoh sehingga tak mudah ambruk seperti jembatan Kukar, ya.


sumber

Mengenang Kaset

Coba perhatikan gambar ini, dan tebak apakah ada yang tahu hubungan antara kaset dan pensil?

 Saat ini kaset semakin ditinggalkan, eksistensinya tergilas oleh kehadiran CD maupun alat putar musik digital lainnya. Akibatnya, saat ini kaset lebih banyak menjadi koleksi benda antik.

Di jejaring sosial, nostalgia tentang kaset sempat dibicarakan panjang lebar. Bahkan ada yang menulis generasi 80 (lahir di tahun 80-an) merupakan barisan terakhir penikmat musik konvensional lewat alat putar analog.

Ada beberapa fakta menarik tentang kaset yang bisa menjadi tambahan pengetahuan kita. Beberapa di antaranya berikut ini:

Bahasa Prancis. Kaset atau cassette berasal dari Bahasa Perancis yang artinya "kota kecil"

Sistem kerja mekanik. Kaset terdiri dari kumparan-kumparan kecil yang membentuk gulungan pita. Kumparan tersebut terbungkus dalam bungkus plastik berbentuk kotak kecil berbentuk persegi panjang. Di dalamnya terdapat sepasang roda putaran untuk pita magnet. Pita ini akan berputar dan menggulung ketika kaset dimainkan atau merekam.

Kaset pertama. Kaset pertama kali diperkenalkan oleh Phillips pada tahun 1963 di Eropa dan tahun 1964 di Amerika Serikat, dengan nama Compact Cassette.

Pita kaset. Panjang pita kaset pada umumnya 2400 feet, lebarnya 0.5 inch dan tebalnya 2 mm.  Data disimpan dalam bintik kecil  yang bermagnit dan tidak tampak pada bahan plastik yang dilapisi ferroksida.  Flexible plastiknya disebut mylar.  Mekanisme aksesnya adalah tape drive.

Walkman. Selama periode keemasan kaset, beredar pula alat putar portable yaitu walkman yang dipopulerkan oleh Sony.

Era Keemasan. Kaset mungkin mengalami era keemasan dari tahun 1970-an hingga pertengahan 1990an. Memasuki abad milenium, keberadaan kaset makin tergusur. Perusahaan rekaman pun lebih memilih CD dan format musik digital dalam industri mereka.

Perkembangan model. Pada tahun 1971, The Advant Corporation memperkenalkan model terbarunya, Model 201, yang menggabungkan Dolby tipe B pengurang gangguan (noise) dengan pita kromium dioksida. Oleh karena itulah kaset mulai dapat digunakan dalam industri musik secara serius, dan dimulailah era kaset berketepatan tinggi.

Tipe kaset. Goresan-goresan yang terdapat pada permukaan kaset menjadi indikasi tipe kaset. Kaset yang paling tinggi disebut kaset tipe I. Berikutnya, dengan goresan tambahan untuk goresan lindungan tulisan merupakan tipe II. Sedangkan dua tipe kaset berikutnya merupakan perpaduan antara kaset tipe II dengan sepasang tambahan di tengah-tengah kaset merupakan tipe IV.

Kekuatan. Sebenarnya kaset lebih tahan terhadap debu, panas, dan goncangan jika dibandingkan pesaing digital utamanya (CD).

Masuk Indonesia. Kaset masuk Indonesia baru di tahun 1970-an. Sebelumnya perusahaan rekaman yang ada seperti Lokananta masih menggunakan perekam piringan hitam. Akibatnya, saat industri kaset masuk Indonesia, banyak pihak yang mengeluh. Meskipun gempuran kaset akhirnya menjadi raja di negeri ini.

Kontroversi India. Pada tahun 1970-an, kaset dianggap membawa pengaruh buruk sekularisme di kalangan masyarakat religius India. Teknologi kaset menciptakan pasar yang membludak bagi musik pop di India, menimbulkan kritik dari kaum konservatif dan di waktu yang sama menciptakan pasar besar yang melegitimasi perusahaan-perusahaan rekaman dan pembajakan kaset.

Kreatifitas Pita Kaset

Apa yang dapat dilakukan dengan pita kaset bekas? Mungkin karya-karya ini bisa menjadi sumber inspirasi.

Cara Jadi Pintar Seperti Leonardo da Vinci

Leonardo da Vinci lebih dikenal karena lukisannya yang terkenal Mona Lisa dan Last Supper. Meskipun sebenarnya Leonardo lebih tepat disebut sebagai inventor, karena berbagai ide, konsep dan penemuan juga dilakukan pria asal Firenze, Italia ini. 


Misalnya, beberapa pemikiran Leonardo terdapat dalam buku catatanya sebanyak 7.000 halaman.

Didalam buku itu juga terdapat sketsa tentang studi tubuh manusia. Pada zaman itu, anatomi tubuh manusia tak lebih dari sekadar kira-kira karena siapapun dilarang keras membedah jenazah. Dengan kenekatannya mencuri-curi kesempatan membedah-bedah tubuh orang mati, di kemudian hari tindakan yang tak lazim di zamannya ini memberikan kontribusi yang sangat besar bagi dunia kedokteran.

Kekaguman pada Leonardo bisa jadi menimbulkan pertanyaan, "bagaimana bisa seperti itu? Mengapa Leonardo sangat pintar?" Dan, ingin tahu bagaimana caranya? Mungkin kita harus mengembangkan 7 poin di bawah ini agar bisa sehebat Leonardo da Vinci.

Curiosita. Atau curiosity (english). Yaitu rasa penasaran, tak pernah puas dan ingin belajar terus tanpa henti. Seperti Leonardo yang terus mencari dalam hidupnya, kita harus mempunyai pikiran yang terbuka (open mind) atas segala hal sehingga bisa memperoleh banyak pengetahuan baru.

Dimostrazione. Dimostrazione adalah "komitmen untuk menguji pengetahuan melalui pengalaman, ketekunan, dan kesediaan untuk belajar dari kesalahan".

Sensazione. Hal ini berarti "perbaikan terus-menerus dari indra, terutama penglihatan, sebagai sarana untuk menambah banyak pengalaman". Itulah sebabnya salah satu motto Leonardo adalah saper vedere (mengetahui bagaimana melihat) di mana ia membangun karyanya dalam seni dan ilmu pengetahuan.

Cryptic. Bila diterjemahkan berarti "Samar". Maksud samar di sini adalah "kesediaan untuk merangkul ambiguitas, paradoks, dan ketidakpastian". Karakteristik terpenting dari kejeniusan da Vinci adalah kemampuannya untuk menangani rasa misteri (keingintahuan).

Arte / scienza. Arte / scienza adalah "pengembangan keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan seni, logika dan imajinasi".

Berarti kita harus mengembangkan cara berpikir dengan "seluruh otak". Pemetaan pikiran adalah metode yang kuat yang dapat membantu dalam menggabungkan logika dan imajinasi pada setiap aktivitas/pekerjaan dalam kehidupan.

Corporalità. Corporalità adalah "memelihara anugerah, keterampilan tangan, kebugaran, dan ketenangan". Leonardo memiliki kemampuan fisik yang luar biasa dilengkapi kegeniusannya dalam sains dan seni. Bagi kita, hal tersebut bisa dilatih dengan pelatihan fisik, yoga, atau latihan-latihan spiritual.

Sebagai contoh, Leonardo bisa menulis dengan tangan kanan dan kiri. Selain bakat, tentunya hal ini bisa dilatih bila kita mau.


Connessione. Secara singkat dipahami sebagai : "Sistem berpikir." Salah satu sumber utama dari kreatifitas Leonardo adalah kemampuannya untuk membentuk pola baru melalui kaitan dan kombinasi dari elemen yang berbeda.

Tertarik? Selamat mencoba. Jangan lupa poin pertama: Curiosita atau "pikiran yang terbuka" karena dengan dasar yang kuat inilah kita bisa mendapat banyak pengetahuan baru. Bila kita terlalu gampang menilai sesuatu karena "picik" atau "pikiran subyektif" wah, rasanya harus mulai membenahi diri dulu.

Fakta Unik Air Mata dan Menangis

Setiap orang pasti punya pengalaman menangis dalam hidup mereka. Hari pertama manusia lahir, mereka sudah memiliki pengalaman pertama mengeluarkan air mata. 

Menangis biasanya terjadi ketika seseorang merasa sakit baik fisik maupun mental, atau ketika seseorang merasa sangat bahagia. Dengan kata lain, menangis adalah cara untuk mengekspresikan emosi seseorang.

Umumnya, wanita lebih sering menangis daripada pria. Masyarakat telah membentuk opini bahwa perempuan lebih emosional yang berarti bahwa lebih mudah bagi perempuan untuk melepaskan air mata dan mulai menangis.

Menurut Fit Sugar, setidaknya ada delapan fakta unik tentang menangis yang merupakan kesimpulan dari berbagai penelitian tentang menangis.

1. Sebanyak 85% wanita dan 73% pria mengakui bahwa rasa marah dan kesedihan akan berkurang setelah menangis. Air mata tidak hanya diproduksi oleh perasaan emosional saja. 

Air mata juga berfungsi untuk membersihkan dan melumasi mata, yang menyebabkan iritasi mata dan menguap dapat menyebabkan produksi air mata meningkat. Meskipun menghasilkan air mata, namun air mata emosional dan air mata karena iritasi sebenarnya memiliki komposisi kimia yang berbeda.

2. Jika wanita dianggap lebih mudah menangis, mungkin saja benar. Rata-rata, wanita menangis sebanyak 47 kali dalam setahun sedangkan pria menangis hanya 7 kali setahun. 


Hal ini bukan hanya karena perempuan dianggap lebih emosional, lebih lemah dibandingkan pria, dari fakta medis diketahui bahwa saluran air mata pada laki-laki memiliki ukuran yang lebih kecil dibandingkan pada wanita. Sedangkan pada bayi, durasi normal menangis mereka antara 1 – 3 jam sehari.

3. Tidak hanya waktu ketika kebanyakan orang menangis, tetapi durasinya juga. Sebagian besar orang menghabiskan rata-rata 6 menit setiap kali mereka menangis.

4. Jika merasa sulit dan malu untuk mengeluarkan air mata, sepertinya kita harus berpikir lagi. Menurut para ahli, menangis tidak hanya respon tubuh terhadap kesedihan dan rasa frustasi, tetapi juga sehat.

5. Menangis adalah cara untuk mengurangi stres emosional. Hal ini tentu saja sangat baik untuk kesehatan, karena stres bisa memberikan dampak negatif bagi kesehatan seseorang. Dari hasil penelitian, diketahui bahwa air mata mengandung hormon prolaktin yang efektif untuk melawan stres.
 

6. Stres dikatakan memiliki dampak yang buruk bagi kesehatan, stres dapat meningkatkan risiko serangan jantung dan kerusakan otak. Maka menangis bisa membuat sehat, karena dapat menghilangkan stres seseorang.

7. Para  ahli mengatakan bahwa menangis dapat menurunkan tekanan darah dan denyut jantung dan membuat respon yang lebih baik terhadap pengobatan.

Nah, mulai sekarang tak usah ragu atau malu untuk menangis.

Fakta Seputar Pensil

Sebatang pensil punya banyak cerita. Tidak hanya sebagai alat tulis saat ujian atau alat gambar paling lazim dikenal, namun banyak lagi.

Nah, berikut ini beberapa fakta menarik soal pensil.

1. Setiap tahun diproduksi 14 miliar batang pensil di seluruh dunia. Yang terbanyak di Amerika Serikat (2 miliar batang). Jika semua pensil itu digunakan untuk membuat garis, akan tercipta 64 garis keliling dunia.

2. Satu batang pensil bisa menulis 40 ribu kata atau setara dengan garis sepanjang 35 mil.

3. Awalnya pensil dipakai untuk menandai kambing. Sifat graphite (bahan dasar pensil) yang lunak membuat para peternak mudah menorehkan marka di kulit kambing.

4. Pensil pertama kali diciptakan pada tahun 1565 di Inggris, tetapi baru seabad kemudian diproduksi secara massal di Jerman.

5. Pada 30 Maret 1858, manusia menciptakan penghapus. Sebagian besar pensil Eropa tidak menggunakan penghapus di pantatnya. Tidak seperti pensil di Amerika yang menggunakan penghapus.

6. Setiap batang pohon dengan ukuran rata-rata akan menghasilkan 170 ribu batang pensil.

7. Pensil terbesar dibuat oleh Ashrita Furman di New York. Panjangnya 23 m, berat 10 ton, dan harganya AS$ 20 ribu.

8. Pensil diberi warna cerah agar mudah ditemukan. Pensil kini berbentuk heksagonal (bukan bulat) agar tidak menggelinding di bidang datar.

9. Peraut pensil pertama kali dibuat dan dipatenkan oleh matematikawan asal Prancis, Bernard Lassimone, pada tahun 1828. Sebelumnya orang meraut pensil menggunakan pisau.


sumber

Logika (10), Tiga Prinsip Dasar Pengolahan Istilah dan Pernyataan

Kira-kira, dalam artikel ini sebaiknya dibahas apalagi ya? Bingung juga sih. Soalnya, kalo kita belajar logika, tambah maju belajarnya, biasanya suka bertambah teknis materinya. So, kemungkinan mempelajari logika dengan mudah akan banyak hambatannya. Kecuali otaknya lagi tokcer bukannya encer. Hehe...

Tapi, kalau saya gak salah memahami, adalah penting untuk terlebih dahulu mengerti kenapa logika hanya fokus kepada dua pokok masalah saja, yaitu: istilah dan pernyataan. Ini karena dua objek tersebut mewakili pengetahuan seseorang atas sesuatu hal (berkaitan dengan istilah dan definisinya) dan sikap seseorang atas sesuatu hal (bersangkutan dengan pernyataan dan kesimpulannya). Sebab, bila seseorang dapat membuat suatu definisi yang baik dari suatu istilah, dapat dipastikan bahwa ia memiliki pengetahuan yang cukup mengenai apa yang dimaksud oleh istilah tersebut. Sedangkan berkenaan dengan sikap seseorang, ini akan dapat dilihat dalam apa yang diungkapkan melalui pernyataannya tersebut. Misalnya, ketika seseorang, sebutlah Nita dan Toto berdiskusi mengenai apa yang disebut dengan katak, maka keduanya akan melakukan diskusinya kira-kira seperti ini:
Nita: "To, apa sih bedanya katak sama kodok? Tahu ga? Aku bingung nih kalo harus bedain."
Toto: "Apa ya bedanya? (Sambil garuk2 kepala ga jelas) Mungkin, kalo katak tuch yang badannya kurus, sedangkan kodok badannya gemuk. Memang kenapa Nit?"
Nita: "Ini, lagi dapet tugas untuk mendeskripsikan katak dan kodok untuk pelajaran biologi. Hmmm ... mungkin bener juga ya? Tapi apa sih perbedaan lainnya?"
Toto: "Kalo kodok, aku tahunya cuma kulitnya itu totol, agak kasar, terus warna kulitnya agak gelap. Sedangkan katak, kulitnya licin dan warna kulitnya agak terang."
Nita: "Oh ... begitu ya? Berarti kodok tuh mirip Toto dong. Kan ... kulitnya gelap gitu. Hihi ..."
Toto: "Aduh, mentang-mentang aku kulitnya item, kamu samain aku sama kodok. Awas ya, ta cubit nih ...!"
Toto mengejar Nita yang sudah kabur duluan sebelum Toto sempat mencubitnya ...
Ilustrasi di atas ini memperlihatkan beberapa hal yang dapat dikenali oleh kita sebagai istilah dan juga pernyataan. "Katak" dan "kodok" adalah dua istilah yang menjadi pokok pembicaraan dalam diskusi di atas. Sedangkan pernyataannya, dapat dibaca dalam:
  • Aku bingung nih kalo harus bedain.
  • Katak tuch yang badannya kurus, sedangkan kodok badannya gemuk.
  • Hmmm ... mungkin bener juga.
  • Aku tahunya cuma kulitnya itu totol, agak kasar, terus warna kulitnya agak gelap.
  • Kulitnya licin dan warna kulitnya agak terang.
  • Berarti kodok tuh mirip Toto dong.
Pernyataan-pernyataan ini boleh dikata sebagai pernyataan informal atau tidak baku.Sebab, kalau kita mencoba untuk mengkategorikannya dalam format pernyataan yang sudah kita bahas dalam artikel sebelumnya, tidak ada satu pernyataan di atas yang memenuhi pola pernyataannya. Apalagi dalam pernyataan terakhir, bagaimana mungkin Nita mengambil kesimpulan kalo Toto itu mirip dengan kodok? Ini adalah sebuah fallacy atau sesat pikir kalo kita menggunakan pola pikir yang logis. Namun, karena kita paham bahwa ini adalah suatu bentuk percandaan, maka kita tidak akan mempermasalahkannya dan hanya akan tersenyum saat membacanya. (Mohon maaf, untuk pembaca yang bernama sama, bukan dimaksudkan kepada Anda lho! Tapi, kalo merasa, berarti Anda hanya terlalu geer. ^_^)

Dari cerita ini pula, kita sebenarnya dapat mengenali pula prinsip-prinsip dasar yang digunakan dalam proses pengolahan istilah selain definisi. Meskipun begitu, prinsip-prinsip ini sebenarnya juga dipakai dalam pembuatan definisi. Sehingga, boleh dikata, ini adalah prinsip-prinsip dasar yang menjadi landasan dalam proses pengolahan istilah secara umum. Lalu, kira-kira, apa saja sih prinsip dasar yang dimaksud? (Iya, cepet dong sebutin! Dah ga sabar alias kebelet pengen tahu! :-p )

Prinsip dasar pertama adalah persamaan. Sesuatu hal dapat dikenali memiliki kemiripan dengan sesuatu yang lainnya karena ada persamaan di antara keduanya. Dalam contoh pembuatan definisi dengan predicable, kita telah mengetahui bahwa manusia dan kera memiliki persamaan di antara keduanya. Manusia dan kera sama-sama melahirkan dalam proses akhir perkembangbiakannya dan juga sama-sama menyusui dalam proses pembesaran anak-anaknya. Bila mengambil contoh pada cerita di atas, katak dan kodok juga memiliki persamaan. Di antara persamaan yang ada, katak dan kodok sama-sama memiliki kaki dengan selaput di antaranya, mampu hidup di dua alam (amfibia), dan memiliki lidah yang lentur untuk menangkap mangsanya.

Setelah prinsip dasar pertama ini, prinsip dasar kedua yang dipakai adalah prinsip perbedaan. Apa yang berbeda dari yang dimiliki manusia dan kera seperti dibahas dalam definisi dengan predicable jelas merupakan contoh penerapan yang paling jelas dari prinsip ini. Hal yang sama juga dapat ditemui dalam contoh cerita di atas. Apa yang dibicarakan Nita dan Toto adalah perbedaan yang dapat dikenali oleh mereka berdua sehingga mereka dapat "memilah" katak dan kodok dengan baik.

Untuk yang terakhir, prinsip dasarnya adalah prinsip keberhubungan. Sesuatu hal akan dapat diketahui dengan baik kalau kita dapat membandingkannya dengan hal lain. Tentunya, akan lebih baik lagi bila kita juga dapat mengenali hubungan antara sesuatu hal tersebut dengan sesuatu hal lainnya yang kita bandingkan itu. Kira-kira, contohnya bagaimana ya?

Misalnya, dalam contoh definisi dengan predicable, kita telah memperbandingkan manusia dan kera. Kita juga telah dapat mengenali persamaan dan perbedaannya. Lalu, apa yang dapat menghubungkan dua subjek ini? Dalam kondisi yang praktis, kita sering menggunakan persamaan untuk melihat hubungan di antara kedua hal yang sedang diperbandingkan, sebagaimana telah dilakukan dalam memperbandingkan manusia dan kera. Dari hal ini, kita akan mengatakan bahwa sesuatu itu "berhubungan" dengan sesuatu yang lainnya karena banyaknya persamaan yang keduanya miliki. Kalau kita mengenali perbedaannya terlalu jauh, kita seringkali mengatakan bahwa kedua hal tersebut tidak "berhubungan". Tetapi, apakah benar seperti itu?

Dalam banyak hal, kita ternyata tidak hanya memakai persamaan dalam menentukan hubungan sesuatu. Ini kita peroleh dalam contoh, hubungan antara kertas dan logam. Kertas dan logam tentu saja memiliki karakteristik yang berbeda dan cukup jauh untuk dipertautkan. Namun, ketika keduanya difungsikan sebagai "uang", maka keduanya dapat dianggap sama, walaupun sangat berbeda dari jenis materi dan karakteristiknya. 

Pada akhirnya, secara umum, kita akan dapat memahami kalau tiga prinsip dasar ini saling mengisi satu sama lain atau saling melengkapi dalam membantu pemahaman kita atas berbagai hal. Pengetahuan manusia terutama bertumpu pada penggunaan tiga prinsip dasar ini dan terungkap melalui istilah dan pernyataan. Apa yang kita tahu tergambar dalam penjelasan kita atas sesuatu istilah dan sikap kita atas sesuatu tercermin dalam pernyataan yang kita buat seperti terdapat dalam contoh-contoh yang telah dikemukakan. Inilah elemen-elemen terpenting dari pengetahuan manusia. Lalu, apakah Anda setuju dengan pendapat saya ini? Kalau tidak, silahkan ungkapkan pikiran Anda. Jangan ragu untuk tidak sependapat ... ^_^

Logika (9), Definisi dengan Predicable

Wah, telat lagi nih postingnya...!!! 1 tahun lagi telatnya. Gimana sih, kan udah janji?
Iya, maaf dech, saya telat lagi bikin postingannya. Soalnya saya ini lagi sulit menulis, plus juga kesibukan lainnya. Pokoknya plus-plus dech. Hehe...
Tapi, sekarang ini dah lumayan ok ko situasinya. Buktinya, postingan baru dah siap untuk Anda baca dalam blog ini. Selamat membaca ya? Jangan takut juga, kalau sudah lupa dengan isi posting sebelumnya, silahkan baca melalui link yang saya sediakan di arsip ^_^

Melanjutkan pembahasan istilah yang disebut dengan definisi pada posting sebelumnya, kita dapat membuat definisi dengan cara yang lebih rinci daripada yang sudah dijelaskan. Ini diperoleh dengan memahami apa yang disebut dengan predikat secara lebih jauh. (Untuk pembahasan predikat ini, lihat dan baca kembali dalam artikel sebelumnya yang berjudul Kata dan Istilah, Kalimat dan Pernyataan).

Predikat ini kalau dalam penguraian artikel saya yang terdahulu adalah bagian penjelasan yang terletak setelah kopula dalam suatu pernyataan. Jika dibandingkan dengan uraian yang ada pada definisi, maka kita dapat mengatakan bahwa predikat ini akan sama dengan yang disebut definiens. Nah, definiens ini sendiri dapat dibagi menjadi beberapa unsur pembentuk definiens. Unsur-unsur inilah yang nantinya diberi nama predicable.

Predicable itu sendiri tidak lain daripada predikat yang diterapkan untuk memahami subjek yang hendak diuraikan. Subjek tersebut dalam definisi adalah yang disebut definiendum. Ada banyak predikat yang dapat diterapkan untuk membuat subjek lebih dapat dipahami. Aristoteles memiliki pembagian yang cukup lengkap mengenai predikat apa saja yang harus ada dalam mengurai penjelasan atas suatu subjek.

Dalam karyanya Topica, Aristoteles telah membagi jenis predikat menjadi 5 macam, yaitu: definisi (Yunani, horos), genus (Yunani, genos), diferensia (Yunani, diaphora), properti (Yunani, idion), dan aksiden (Yunani, sumbebekos). (Baca juga artikel mengenai predicable ini dalam Wikipedia) Ia kemudian mengatakan kalau definisi itu adalah predikat yang berupa "esensi" atau hakikat dasar dari subjek yang dibicarakan. (Topica: 101b; 35-40) Misalnya, hakikat dasar manusia adalah berpikir. Maka berpikir adalah definisi dari manusia.

Selanjutnya, beralih pada istilah genus. Istilah ini memiliki pengertian sebagai predikat dari sejumlah subjek yang dapat menghadirkan perbedaan dalam beragam macamnya untuk subjek tersebut. Misalnya, ketika subjeknya itu adalah manusia, maka genus-nya adalah binatang. (Topica, 102a; 30-5) Pada konteks ini, binatang menjadi genus manusia serta sekaligus dapat menjadi genus untuk kera. Ini karena manusia dan kera adalah sama-sama "subjek". Namun, manusia dan kera sama-sama menjadi subjek pada konteks ini adalah karena kita dapat melihat persamaan yang ada di antara keduanya. Jadi, secara sederhana, genus adalah predikat yang dapat mencakup beberapa hal dengan melihat kesamaan yang ada di antara beberapa halnya itu. (Waks, ko si Arist bingungin yach? :-? )

Pada contoh genus, kita sudah dapat melihat bahwa manusia dan kera dipertautkan di bawah genus binatang. Kini, menjadi penting untuk diperhatikan bahwa perbedaan perlu diberikan sebagai predikat yang dapat memisahkan antara manusia dan kera. Sebab, kalau manusia dan kera tidak dipilah dan dipisahkan, maka berabe jadinya. Kita, yang notabene manusia, masa sih mau disamakan dengan kera? (Iya nih, masa ane dibilang kera sih? Yang bener aje 0_0 )

Oleh karena itu, diferensia sebagai suatu predikat, perlu diterapkan dan ditambahkan pada genus. (Topica, 101b; 15-20) Ini persis seperti yang diungkapkan sebelumnya bahwa genus dapat menghadirkan perbedaan. Perbedaan yang dimaksud tiada lain daripada diferensia. Dalam hubungannya dengan contoh yang diberikan untuk konteks genus, yaitu binatang, diferensia yang dapat ditambahkan untuk genus binatang dengan subjek manusia dan subjek kera jelas akan memiliki kekhususan untuk masing-masingnya. Pada subjek manusia, diferensia yang dapat ditambahkan adalah "dapat menyusun pengetahuannya secara sistematis". Sedangkan untuk subjek kera, diferensianya adalah "dapat memperoleh pengetahuan melalui naluri, percobaan, dan juga pengalaman".

Dalam diferensia untuk kera, kita dapat membaca bahwa keterangan yang serupa ini nampak mendekati pengertian diferensia yang diberikan untuk manusia. Bedanya itu hanya tipis saja. Pada manusia, diferensia yang diberikan tekanannya terletak pada istilah "sistematis". Sedangkan pada kera, titik tekan diferensia-nya adalah istilah "naluri". Ini menjadi penting karena manusia dapat mengembangkan suatu ilmu dengan pengetahuannya yang sistematis, sedangkan kera tidak dapat mengembangkan pengetahuannya secara lebih jauh. (Hmm... Ini bener ga ya penjelasannya? [Garuk2 kepala ga jelas])

Bila perbedaan yang diberikan masih kurang jelas, masih dapat diberikan predikat tambahan yang dapat melengkapi keterangan diferensia-nya. Dengan properti, predikat ini akan dapat melengkapi keterangan secara lebih jauh. Misalnya, manusia itu "memiliki kemampuan untuk belajar tata bahasa". Di sini, keterangannya dapat dibalik menjadi yang memiliki kemampuan untuk mempelajari tata bahasa adalah manusia. Melalui contoh ini, kita dapat mengatakan bahwa properti adalah predikat tambahan yang hanya dimiliki oleh subjek yang hendak diuraikan dan tidak dimiliki oleh subjek lainnya. (Topica, 102a; 15-25) Kalau misalnya ada predikat tambahan yang dimiliki pula oleh subjek lainnya, maka ini dapat disebut dengan properti sementara. (Topica, 102a; 25-30) Misalnya, mengantuk adalah properti yang dapat dimiliki oleh manusia dan juga kera, serta binatang yang lainnya. Oleh karenanya, mengantuk adalah jenis dari properti sementara. (Wah-wah, saya jadi mengantuk nih! Eit, jangan dong, kan belon selesai baca artikelnya ^_^)

Selanjutnya, pada tingkatan yang lebih jauh, kalau properti masih belum dianggap cukup dalam melengkapi keterangan untuk keterangan genus beserta diferensia-nya, maka ada yang disebut dengan aksiden. Aksiden ini berasal dari kata accidit yang berarti "apa yang terjadi". Penjelasan yang diberikan Aristoteles untuk aksiden ini kurang begitu jelas, kecuali ia mengatakan bahwa aksiden itu adalah sesuatu yang bukan genus, diferensia, maupun properti, namun masih merupakan predikat dari sesuatu yang hendak dijelaskan. (Topica, 102b; 01-10) Misalnya, dalam contoh properti di atas, kita mendapati contoh kalau manusia itu memiliki properti "dapat mempelajari tata bahasa". Pada contoh properti ini, anggaplah kalau mempelajari tata bahasa itu masih kurang jelas maksudnya. Oleh karenanya, kita dapat menambahkan uraian mengenai cara-cara mempelajari tata bahasa sebagai contoh dari aksiden yang akan melengkapi properti ini. Salah satu cara yang digunakan manusia untuk mempelajari tata bahasa adalah menyusun kata-kata ke dalam sistem kebahasaan dengan pola-pola penandaan yang khusus. Dalam uraian kalimat yang terakhir, penyusunan kata-kata ke dalam sistem kebahasaan dengan pola-pola penandaan yang khusus dapat menjadi aksiden yang tepat untuk properti yang telah disebutkan.

Demikian, kalau kita ringkaskan uraian dari Aristoteles ini, maka kita akan dapati penjelasannya melalui tabel di bawah ini:


























PredikatManusia
DefinisiBerpikir
GenusHewan
DiferensiaMenyusun pengetahuan secara sistematis
PropertiDapat mempelajari tata bahasa
AksidenPenyusunan kata-kata ke dalam sistem kebahasaan dengan pola-pola penandaan yang khusus



Pada tabel di atas ini, kita memang dapat melihat sedikit lebih baik apa yang sudah disampaikan oleh Aristoteles secara ringkas. Namun, kita juga masih dibingungkan dengan hubungan antar predikat ini. Bagaimanakah caranya menggunakan kelima predikat ini dalam membuat suatu definisi yang baik?

Jawaban atas soal ini diberikan secara sangat baik oleh Porphyrius dari Tyre (234 - 305 M). Ia mengadopsi pikiran yang telah dikembangkan madzhab Peripatetis dalam karyanya yang berjudul Isagoge dan melengkapi apa yang sudah disampaikan oleh Aristoteles di atas dengan 1 predikat tambahan, yaitu: Species. Ia mengatakan bahwa species adalah predikat yang ada di bawah atau menjadi anggota dari genus. (Isagoge, P.4-15) Pada contoh sebelumnya, telah disebutkan bahwa genus untuk manusia adalah hewan. Dalam kaitannya dengan ini, kita dapat menyebutkan bahwa manusia adalah species dari genus hewan.

Dengan tambahan 1 predikat ini, sebenarnya kita sudah dapat menyusun pola pendefinisian berdasarkan pada predikat yang telah dijelaskan. Berikut adalah rumusan definisi dengan menggunakan elemen-elemen predikat yang dimaksud.






















DefiniendumDefiniens
SpeciesGenusDiferensiaPropertiAksiden
ManusiaHewanyang dapat menyusun pengetahuannya secara sistematisdan bertata bahasamelalui pola-pola penandaan yang khusus



Inilah cara pembuatan definisi dengan menggunakan elemen-elemen yang disebut predicable. Pada cara yang sangat sederhana, definisi yang dibuat dengan menggunakan predicable hanya akan terdiri dari species, genus, dan diferensia. Sedangkan dua elemen lainnya hanya diperlukan untuk melengkapi keterangan yang dirasa kurang jelas pada penjelasan diferensia-nya. Mudah-mudahan, artikel ini akan membantu Anda semua membuat definisi yang baik. (Oh begini ya bikin definisi yang baik? Lumayan juga, jadi kelihatan strukturnya. ^_^)

Sampai jumpa di tulisan berikutnya. Mungkin kita masih akan membahas persoalan di seputar logika dulu.

Referensi:
Aristoteles, Topica, dalam W.D. Ross, (Ed.). 1928. The Works of Aristotle. Clarendon Press: Oxford.
Porphyrius The Phoenician. 1975. Isagoge. Edward W. Warren (Trans.). The Pontifical Institute of Medieval Studies: Canada.